Oleh : Hendra Syahputra
Padamu negeri/Kami berjanji/Bagimu negeri/Jiwa raga kami…
Begitu penggalan salah satu lagu kebangsaan, yang wajib saya dan teman-teman nyanyikan setiap hari Senin, ketika upacara bendera di sekolahan pada masa-masa SD, SMP dan SMU dulu. Lagu itu menjadi begitu heroik, ketika semua orang dengan gegap gempita menyanyikannya, dengan semangat - empat puluh lima- pula
Tapi bukan itu yang ingin saya ulas, namaun bagaimana idealisme anak bangsa zaman sekarang menghadapi pemilu, yang akan segera digelar 9 April 2009 mendatang (kalau tidak salah)
Menjelang pemilu 2009, selain dihadapkan pada berubahnya system pemilihan dari system pemilihan semi terbuka menjadi system pemilihan terbuka yang memaksa setiap partai politik untuk tetap bertahan dalam system yang penuh ketidakpastian ini, juga dihadapkan dengan fenomena munculnya figure-figure politik yang berasal dari kalangan aktivis dan artis serta munculnya partai-partai baru.
Fenomena tersebut jelas menjadi fenomena baru dibanding dengan pemilu-pemilu sebelumnya, walaupun bibit-bibitnya sudah mulai tercium pada pemilu sebelumnya. Dan fenomena-fenomena tersebut bisa jadi merupakan jawaban-jawaban atas ketidakpercayaan masyarakat terhadap partai politik dan juga minimnya figure-figure politik yang dikenal public dan mampu membawa aspirasi rakyat dengan secara sungguh-sungguh. (wah repot neh)
Calon baru dan wajah baru
Munculnya calon-calon legislative dari kalangan mana saja bukan saja upaya partai politik untuk mempertahankan diri dalam pertarungan politik kemudian, pencalonan ini juga merupakan upaya instan partai politik dalam memenangkan pemilu. Kenapa tidak? Mungkin saja bisa jadi partai-partai politik saat ini kehilangan figure-figure politik yang dikenal public - terutama partai-partai baru yang mungkin saja saat ini terlalu pendek waktunya untuk mencetak kader-kader partai yang siap dicalonkan pada pemilu 2009.
Dilematis memang, Fenomena ini bukanlah sesuatu yang tidak berdasar, ditengah-tengah budaya masyarakat yang gemar menonton sinetron dimana public lebih mengenal sosok seorang artis ketimbang “arsitek” politik yang betul-betul bisa membangun sebuah bangsa, jelas merupakan sebuah alasan kenapa partai politik beramai-ramai mengikutsertakan artis dalam pertarungan pemilu 2009 maupun pilkada-pilkada di berbagai daerah di Indonesia.
Siapapun calon itu dan dari mana? Bukanlah sebuah persoalan utama dan itu adalah hak setiap warga Negara.
Akan tetapi, yang perlu dikritisi saat ini adalah bagaimana integritas, kompetensi dan accountabilitas seorang calon. Bukan saja ia dikenal public akan publisitasnya. Akan tetapi kepiawaian seorang calon dalam membangun sebuah bangsa, public perlu mengetahui lebih dulu. masalahnya, siapa yang siap lahir bathin dengan gegap gempita pula, meretas kebekuan dan kekakuan untuk maju mengajak masyarakat berdiskusi, debat terbuka dan lainya, sekedar memanaskan “mesin berfikir” nya?
Mendadak Caleg
Bukan ingin meniru judul film 'mendadak dangdut' tapi saya ko jadi ingin memakai istilah 'mendadak'. setelah pikir-pikir, tertarik juga untuk digandeng dengan kata 'caleg' jadi mendadak caleg.
Menjelang pemilu 2009, banyak orang tertarik menjadi anggota dewan yang terhormat. Entah DPRD kota, DPRD propinsi dan yang pasti DPR RI.mulai dari orang biasa, pengusaha, orang parpol, paranormal bahkan artis pun berduyun - duyun antri daftar jadi caleg. mungkin dalam benaknya jadi anggota dewan itu enak, gaji gede, fasilitas wah, urusan rakyat mah cuma di depan pas waktu kampanye dan dibelakang pas jabatan mau berakhir. Yang penting duduk empuk, udara sejuk, duit masuk, terus mata ngantuk .......zzz...zzz...
Para politisi kita yang benar-benar paham akan ilmu politik ternyata tidak cukup dipercaya oleh masyarakat untuk mereka pilih karena mereka kehilangan popularitas di depan audiensnya. Karena itu pula, politik kemudian bergegas mengusung para artis untuk dapat meraup suara dominan masyarakat. Bahkan orang yang sama sekali sepak terjangnya belum bisa kita baca di surat kabar dan terobosan-terobosan nya di masyarakat tidak kelihatan, juga berani maju di garda depan? Gejala apakah ini?
Kalau kita mengacu pada nilai-nilai demokrasi, tentu saja kita tidak mempunyai hak melarang-larang siapa saja untuk mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi apa saja dalam jabatan-jabatan kenegaraan. Namun, lain cerita ketika kita harus berbicara masalah kepemimpinan berdasarkan hakikat dari hati nurani kita yang ketika membicarakan masalah itu akan banyak hal dilibatkan sebagai suatu pertimbangan. Sebut saja hal yang dimaksud berupa kecakapan mental, kapasitas ilmu pengetahuan, sejarah hidup yang mencetak kepribadian seseorang maupun idealisme yang dibangun setelah melihat kenyataan hidup yang ada.
Sejatinya kita tidak benar-benar paham, akan dibawa ke mana bangsa yang hampir tercerai-berai ini. Kita yakin bahwa sesungguhnya negeri ini memiliki sekian ribu intelektual dengan kecakapan dan spesifikasi keilmuan mereka yang tidak mungkin kita ragukan integritasnya. Namun, pada saat bangsa ini benar-benar membutuhkan tenaga mereka, mengapa mereka justru bersembunyi karena barangkali tidak diberi kesempatan untuk bisa sedikit ambil bagian dalam upaya penyelamatan bangsa dari kehancurannya.
Ketika nama mereka resmi tercantum dalam daftar caleg, serentak seluruh penjuru kota mendadak jadi arena album foto keluarga. wajah - wajah yang dipaksakan ganteng atau cantik terpampang, mencoba menarik simpati para pemilih. tampang - tampang narsis yang membuat kota jadi tambah kumuh.
Menjadi politisi (masihkah ada yang sejati)
Apa gerangan politisi? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa politisi sama dengan politikus. Keduanya bermakna ahli politik, ahli kenegaraan dan orang yang berkecimpung dalam bidang politik. Namun, benarkah politisi sekarang ahli sesuai dengan makna tersebut?
Saat sekarang politisi sering dimaknai sebatas orang-orang yang bergelut dalam kekuasaan. Mulai dari kepala negara hingga para anggota dewan disebut sebagai politisi. Dalam kenyataannya, mereka yang memproklamirkan diri sebagai politisi lebih beraktivitas dengan memasang iklan di televisi yang menelan biaya ratusan miliar rupiah, menengok rakyat di pasar hanya pada saat menjelang Pemilu atau Pilkada. Di gedung parlemen, bukan merupakan rahasia umum amplop bertebaran di mana-mana. Pengakuan seorang mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sangat mencengangkan. Menurutnya, bertebarannya amplop Rp 5 juta atau Rp 10 juta di lembaga perwakilan tersebut seperti sang ayah memberi jajan anaknya Rp 1000 sehari. Sudah biasa.
Bahkan yang pernah saya baca, pengakuan anggota DPR Agus Chondro tentang adanya suap untuk mengegolkan seorang tokohmenjadi pejabat teras Bank Indonesia (BI), terbongkarnya sogok dalam masalah hutan lindung, terungkapnya suap demi meloloskan undang-undang sesuai pesanan, dll merupakan pemandangan sehari-hari. Belum lagi, rame-rame artis dan pelawak masuk parlemen. Para mantan aktivis yang dulu berteriak lantang, kini membagi diri ke dalam berbagai partai. Para politisi hanya menyapa rakyat saat Pemilu/Pilkada sudah merupakan rahasia umum.
Dalam kamus politik yang lain, politik bermakna ri’âyah syuûni an-nâs, yakni mengurusi urusan masyarakat. Berdasarkan hal ini politisi/politikus mestinya adalah orang-orang yang menyibukkan dirinya dalam mengurusi urusan rakyat. Mereka adalah orang-orang yang memiliki cara berpikir untuk mengurusi pemerintahan dan urusan rakyat; memiliki sikap jiwa (nafsiyah) yang baik; memiliki keahlian dan kemampuan untuk menjalankan perkara kenegaraan; menyelesaikan problematika kerakyatan yang tengah dihadapi dan menuntaskannya penuh kebijaksanaan dan keadilan. Mereka juga adalah orang-orang yang mampu mengatur berbagai interaksi dengan masyarakat dan antar anggota masyarakat. Jadi, politisi sejati memokuskan perhatiannya pada urusan rakyat serta berjuang demi kebaikan dan keberkahan rakyat. Berbeda dengan itu, politisi semu hanyalah memikirkan kepentingan dirinya atau kelompoknya.
Realitas menunjukkan ada beberapa penyebab lahirnya para politisi semu. Pertama: kegagalan ideologisasi partai. Masyarakat paham betul bahwa partai-partai yang ada sama saja. Sehingga yang menjadi tolok ukur (barometer) atas sebuah partai bukanlah dari segi Ideologi partai tapi hanya dalam tatran maslahat saja seperti peduli pada rakyat, bersih (tidak KKN). Partai yang ideologis adalah partai tegas mengatakan yang benar sebagai benar dan salah sebagai salah. Bukannya malah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Partai yang tidak ideologis hanyalah partai kepentingan yang kehilangan ruh. Sehingga ujung dari semua ii adalah pragmatisasi partai yang penuh dengan kepentingan-kepentingan pengusaha, pejabat atau aktor dibelakang partai.
Kegagalan Pengkaderan :
Politisi yang sekadar menjadikan politik sebagai tempat mencari makan adalah cerminan dari gagalnya pengkaderan. Alih-alih bermunculan para politisi yang memperhatikan rakyat, membela akidahnya, menjaga akhlaknya dan memperjuangkan hukum-hukum Allah, justru lahir politisi apa adanya. Perekrutan pun bukan berasal dari sebuah proses pembinaan, melainkan dari popularitas. Tidaklah mengherankan, tolok ukur pemilihan hanyalah keterkenalan. Artis dan pengusaha menjelma menjadi politisi. Para pengamat pun mentransformasi diri menjadi politikus.
Berpolitik untuk materi.
Menyedihkan, banyak orang menjadi politisi hanya sekadar mengejar materi. Siapapun yang mengamati realitas akan tahu bahwa banyak sekali para politisi rebutan jabatan kekuasaan, bagi-bagi proyek, dan menerima uang sogokan. Pikirannya hanyalah bagaimana menang dalam Pemilu/Pilkada. Berbagai sumberdaya dikerahkan ke sana. Politisi pun menjelma menjadi pelaku industri politik.
mengakhiri tulisan ini, aku ingin membaca puisi yang ditulis Soe HOK Gie,
Sebuah Tanya
Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku.
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, kenbah Mandalawangi.
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu
ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,
lebih dekat.
(lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
(haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang tidak kita mengerti
seperti kabut pagi itu)
manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.
Soe Hok Gie
Selasa, 1 April 1969
*** apakah pemilu ini menjadi pembuktian idealisme anak bangsa, atau sekedar mencoba keberuntungan ???, kita lihat saja
ditulis pertama kali : 17 Pebruari 2009
Selengkapnya...
MENU PILIHAN
Senin, 01 Februari 2010
Pemilu dan idelisme anak bangsa
Diposting oleh
The Journey of Hendra
di
18.35
0
komentar
Modal sosial dan Integritas

Oleh : Hendra Syahputra
SEPULUH TAHUN YANG LALU seorang pemikir bernama Francis Fukuyama melansir sebuah buku yang sempat menjadi pembicaraan luas di seluruh dunia, berjudul “Trust”. Salah satu bagian penting dari buku itu mengupas tentang apa yang disebutnya sebagai “social capital” atau modal sosial. Fukuyama mendefinisikan modal sosial sebagai norma informal yang dapat mendorong kerjasama antar anggota masyarakat.
Dalam kehidupan sehari-hari, modal sosial akan tampak dari suasana saling percaya antar warga masyarakat. Ada hubungan erat antara modal sosial dengan tingkat kesejahteraan suatu masyarakat atau bangsa. Negara atau bangsa-bangsa yang tingkat kesejahteraannya tinggi adalah bangsa-bangsa yang memiliki modal sosial tinggi. Argumennya, rasa saling percaya antar warga masyarakat dan kemauan untuk bekerjasama menyebabkan ”biaya transaksi” dan ”biaya kontrol” menjadi rendah, dan hasilnya adalah kehidupan yang lebih efisien dan produktif. Dengan demikian, sumber daya yang ada, dapat dioptimalkan untuk melakukan kegiatan yang membangun nilai tambah bagi kehidupan masyarakatnya.
Melalui kegiatan yang membangun nilai tambah inilah maka multiplier effects bagi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat dapat terwujud.. Sementara itu, dalam tatanan masyarakat yang rasa saling percayanya rendah, diperlukan perangkat kontrol yang berlapis-lapis. Anggota masyarakat sibuk memperjuangkan kepentingan diri, sementara ruang untuk saling memberi sangat sempit. Proses kreatif untuk menemukan cara-cara baru dalam menjalankan kehidupan terhambat, karena setiap inisiatif akan disikapi dengan curiga, bahkan antipati. Sumber daya dan energi yang dimiliki masyarakat dan negara banyak dihabiskan untuk kegiatan yang tidak menghasilkan nilai tambah. Kehidupan keseluruhan menjadi sulit, boros, dan membebani warga.
Masyarakat yang seperti ini sulit untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmurannya. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan ”cadangan” modal sosial, antara lain faktor sejarah, kebudayaan, dan pendidikan. Yang paling menarik adalah bahwa agama dan globalisasi disebut sebagai sumber penting bagi peningkatan modal sosial. Agama (agama apapun) merupakan sumber bagi tumbuhnya nilai-nilai luhur yang menumbuhkan rasa saling percaya dan keinginnan kerjasama.
Sedangkan globalisasi memaksa warga dunia untuk berinteraksi dan hidup bersama. Membangun kembali Aceh dan Nias, sungguh memerlukan modal sosial yang sangat besar. Jika masyarakat Aceh relijius, dan jika bencana Tsunami telah membawa Aceh dan Nias ke dalam komunitas global; bisakah kita berharap suasana ini menjadi persemaian bagi tumbuh suburnya modal sosial?.
Bagaimana Dengan Integritas?
Bila kita ingin mencari satu kata yang dapat mencakup seluruh konsep etis dan moral dalam diri seorang profesional, maka kata tersebut adalah “integritas”. Agaknya belum cukup bagi sebuah kata “profesional” untuk menggambarkan kualitas paripurna. Sosok profesional bukan hanya harus melengkapi dirinya dengan kapasitas tehnis yang tinggi dan ketangguhan emosi, namun juga nilai-nilai etis dan moral. Dan, sebagaimana biasanya, lebih mudah membicarakan integritas ketimbang menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Begitu banyak tulisan mengenai integritas, namun tak pernah bosan orang membicarakannya. Memang integritas tidak cukup untuk dibicarakan, ia haruslah hidup dalam arti yang sebenarnya, barulah kita bisa mengenal apa integritas itu.
Setidaknya ada tiga makna yang berkaitan dengan integritas. Pertama, integritas sebagai “unity”, digunakan untuk menjelaskan kondisi kesatuan, keseluruhan, keterpaduan. Makna ini sering terdengar saat kita berbicara tentang wawasan kebangsaan.
Para politisi bilang, “Kita harus mempertahankan integrasi wilayah negara kita.” Ini berarti bahwa kita harus berusaha sekuat mungkin untuk menjaga kesatuan wilayah negara kita yang terdiri dari banyak pulau. Tentu yang dimaksud bukan cuma kesatuan fisik namun juga kesatuan idea.
Tak mungkin kita bisa menyatukan ribuan pulau dalam wilayah yang sebesar ini bila tidak berusaha menyatukan pandangan jutaan orang yang menghuninya. Dalam dunia komputer, kita mengenal istilah “integrated system” atau sistem yang terintegrasi, yaitu kesatuan sistem-sistem yang saling berhubungan membentuk sistem besar yang menyeluruh dan terpadu, sehingga memudahkan perusahaan untuk melakukan operasi dan kontrol yang lebih efektif.
Integritas bias jadi juga merupakan modal social yang sangat kuat. Pasalnnya, ini merupakan suatu kekuatan hebat. Seperti kata pepatah, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Kita tak bisa menggunakan sebatang lidi untuk menyapu. Namun, bila kita mengumpulkan puluhan batang lidi, lalu mengikatnya dengan kuat menjadi satu, maka terciptalah sapu lidi yang dapat kita pakai untuk membersihkan halaman.
Tak heran bila semangat untuk bersatu, bersesuaian dan berseluruhan semakin hari semakin akrab dengan pola pandang kita. Ini bukan berarti penyeragaman, semua harus sama, namun semangat untuk mencari kesamaan yang membuat kita merasa satu meski berbeda-beda. Globalisasi dapat dilihat sebagai semangat kebersatuan manusia dalam ukuran yang mendunia.
Kedua, integritas adalah “incorruptibility”, keutuhan, kebulatan, yang tak tergoyahkan, tanpa cacat. Integritas diambil dari bahasa Inggris, yang sebenarnya berasal dari bahasa Latin, integritat. Sedangkan dalam bahasa matematika dikenal istilah integr atau integer, yang berarti bilangan bulat tanpa pecahan. Bila kita mempunyai angka 2,3333 maka integer atau bilangan bulat dari angka tersebut adalah 2. Dalam hal ini semua pecahan yang menyebabkan angka tersebut tidak bulat diabaikan. Tentu yang dimaksud dengan bulat di sini bukanlah 0 atau semacam bulatan atau bundaran, namun keutuhan dan kelengkapan suatu bilangan yang tak mengandung pecahan. Bila kita memiliki sebuah rumah kuno dengan arsitektur klasik, kemudian kita menambah bangunan baru bergaya modern, maka dikatakan bahwa bangunan baru tersebut merusak keintegritasan arsitektur atau mengganggu keutuhan idea arsitektur.
Dalam hal ini integritas berarti konsistensi, keterpaduan antara idea dengan perwujudan nyatanya. Seorang aktor film pemenang piala Oscar dapat dikatakan memiliki kualitas seni peran yang tinggi. Bila ia bersedia bermain dalam film “murahan” yang tidak memerlukan keseriusan akting, maka kritikus film mungkin mencelanya sebagai aktor yang tak menjaga integritasnya. Bila anda tahu anda mampu mencapai keunggulan 10 namun anda puas dengan hanya pencapaian 6, maka itu bukan pertanda integritas yang tinggi.
Ketiga, integritas adalah kualitas moral. Hampir semua dari kita mengartikan integritas sebagai “honesty”, kejujuran, ketulusan, kemurnian, kelurusan, yang tak dapat dipalsukan, dan bukan kepura-puraan. Dan barangkali sudah cukup sebuah kualitas jujur sebagai pilar utama kualitas moral seseorang.
Sebagaimana kata orang bijak, bahwa kejujuran adalah mata uang yang laku dimana-mana. Integritas juga adalah ketulusan, sesuatu yang sungguh-sungguh berasal dari dalam hati. Itulah mengapa, integritas bukan cuma jujur pada orang lain. Namun, terutama adalah jujur pada diri sendiri. Integritas bukan kata yang dapat terlihat indera saja, namun harus terasa oleh hati.
Selain itu, integritas adalah “purity” atau kemurnian. Seseorang mungkin disebut sebagai manajer hebat yang mampu mengatur banyak orang, namun bila semua itu itu lakukan dengan memanipulasi orang lain dengan berbagai bahasa diplomasi yang ulung, maka itu bukan sebuah bentuk dari integritas. Integritas bukanlah kepura-puraan.
Integritas haruslah sebuah spontanitas murni dan polos yang lahir dari diri dalam anda. Integritas tidak memerlukan penilaian, atau pertimbangan untuk-rugi untuk terwujud. Ia muncul begitu saja. Barangkali, itulah yang dimaksud oleh Albert Camus bahwa “integritas tidak memerlukan aturan”.
Integritas bukanlah rambu-rambu. Integritas adalah sebuah jalan lurus yang memang tidak memerlukan rambu-rambu. Anda tak memerlukan peraturan apa-apa untuk bersikap jujur dan tulus. Anda tak memerlukan motif apa-apa untuk menjadi seorang yang berintegritas tinggi. Karena, semestinya itu sudah tertanam dalam diri anda. Sayang sekali, mungkin hanya orang-orang suci yang mampu mewujudkan integritas semacam itu. Cukuplah bagi kebanyakan orang bahwa integritas adalah kemampuan kita untuk senantiasa memegang teguh prinsip-prinsip moral dan menolak untuk mengubahnya meski situasi yang kita hadapi sangatlah sulit.
Mungkin juga cukuplah bagi kebanyakan orang bahwa integritas itu adalah kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Namun, tak ada yang salah bila kita tidak berhenti di situ dan terus melanjutkan perjalanan kita untuk menemukan makna integritas yang hakiki.
Dalam refleksi diri kita, integritas mencakup ketiga makna di atas. Integritas adalah kualitas keterpaduan diri seseorang, kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Lebih lanjut juga merupakan keterpaduan antara hati, pikiran dan tindakan. Integritas merekatkan diri dalam dan diri luar seseorang, sebagaimana laut menyatukan pulau-pulau di negara kita.
Namun demikian, integritas bukan sekedar kesatuan diri seseorang dengan dirinya sendiri, integritas juga merupakan kesatuan diri seseorang dengan lingkungan dan masyarakatnya, kehidupan sosial dan alam semesta ini. Seorang yang berintegritas tinggi adalah orang yang menceburkan diri pada lingkungannya, bekerja dan berkarya di sana, sekaligus merasakan kesatuan dirinya dengan alam dan masyarakat sekitar; senantiasa mencari dan berusaha mengerti apa yang harus dikerahkan demi kepentingan lingkungannya. Seorang yang berintegritas tinggi adalah seseorang dengan kualitas keutuhan dan tanpa cacat, atau setidaknya selalu berusaha untuk menghasilkan yang terbaik dari kekuatan dirinya. Seseorang dengan integritas tinggi bagaikan sebatang lidi dalam sapu lidi yang bersama-sama dengan lidi-lidi lain mengerahkan kemampuannya untuk menjadi bermanfaat. Seseorang dengan integritas tinggi berusaha untuk menjaga pencapaian tertingginya.
Seseorang yang berintegritas tinggi adalah mereka dengan kualitas moral dan akhlak yang tinggi. Masukkan semua komponen moral, maka kita akan menemukan tempatnya dalam kata integritas. Cukuplah kalimat dari Buckminster menggambarkan hal ini, “The moral grandeur of independent integrity is the sublimest thing in nature”, Keluhuran moral dari integritas yang merdeka adalah hal yang paling luhur di alam ini.
Dan sekali lagi, memang benar,lebih mudah membicarakan integritas ketimbang memahaminya apalagi mewujudkannya dalam kehidupan nyata.
Bisakah kita sama mencoba, menguatkan modal social yang juga bernama integritas???, hanya waktu yang dapat menjawabnya. Semoga
Selengkapnya...
Diposting oleh
The Journey of Hendra
di
18.27
0
komentar
Label: OPINI
Bantuan Pencarian
Mengenai Saya
- The Journey of Hendra
- saya seorang penulis yang sedang belajar menulis. mencoba menulis apa yang saya rasakan dan saya lihat. semoga bermanfaat
