TIDAK MUDAH memasuki kawasan Desa Indah di kecamatan Jagong Jeget, Aceh Tengah. Jaraknya dari Kota takengon adalah 60-70 kilometer. Jarak nya dari Banda Aceh sekitar 522 kilometer. Jalan nya berdebu karena terdiri Dario bebatuan dan pasir, belum kunjung dilapisi aspal
Pada saat terjadi bencana yang disusul tsunami pada 26 Desember 2004, kawasan yang merupakan hasil pemekaran Kecamatan Linge ini tak luput jadi korban pula. Banyak rumah warga runtuh akibat guncangan berkekuatan 9,1 pada skala richter itu
Namun warga setempat tak mau diam berpangku tangan. Pasca- gempa di Aceh, lima tahun silam, masyarakat Desa Jagong Jeget mulai berbenah. Mereka memperbaiki rumash dan lingkungan yang rusak. Demikian pula dengan jalan, guna memudahkan orang-orang luar melintasi desa mereka. Semua dikerjakan dengan cara bergotong-royong
Patah tumbuh hilang berganti. Mungkin pepatah itu sangat cocok dengan apa yang dialami warga yang bernama Marlan, 46 tahun. Dengan susah payah, bersama teman-teman nya, marlan yang berprofesi sebagai guru itu mencoba bangkit. Ia dan sejumlah warga lain nya segera memperbaiki rumah-rumah yang rusak dan tempat tinggal dengan bantuan minim dari pemerintah
Tentu saja langkah itu tidak gampang. Sebab, untuk melakukan kegiatan berbenah itu, rata-rata warga harus menempuh perjalanan 20-30 kilometer menuju tempat pertemuan, musala atau masjid, untuk sekedar mengikuti rapat-rapat koordinasi guna merancang perbaikan. Namun , bagi mereka, jarak yamng jauh tidak menjadi masalah. Terkadang mereka urunan uang untuk menyewa labi-labi, mobil angkot di Aceh
Angkot itu disewa seminggu dua kali. Perjuangan yang tidak gampang. Tapi mereka melakukannya dengan ikhlas dan hati gembira. Padahal, jika dibandingkan dengan hasil tani yang mereka dapat tidak seimbang dengan ongkos yang mereka keluarkan.
“Alhamdulillah, warga kami sangat semangat dan tidak mengeluh dengan kondisi ini,” ujar Wisnu hadi Broto, 33 tahun, seorang warga Desa Jagong Jeget.
Lelaki asal Klaten, Jawa Tengah itu tidak pernah menyiratkan wajah susah ketika berbincang dengan saya. Menurut lelaki ramah yang biasa dipanggil Mas Wisnu itu, kendala jarak yang begitu jauh membuat sebagian warga tidak betah tinggal di sana. Hingga kini, di tempat dia tinggal terdapat tujuh kepala keluarga, delapan remaja, dan 15 anak-anak.
Selengkapnya...
Minggu, 07 Februari 2010
Bangkit dengan daya Sendiri
Diposting oleh
The Journey of Hendra
di
01.29
0
komentar
Label: CATATAN PERJALANAN
Ketika Tanah Bergoyang dan Air Bah Menerjang

Pat Ujen yang Han Pirang, Pat Prang Yang Han reda / tidak ada hujan yang tidak berhenti, tak ada perang yang tak selesai
Peribahasa Aceh di atas, mengungkapkan betapa panjang nya konflik di Aceh, tiga puluh dua tahun, di susul Gempa dan gelombang pasang tsnunami, 26 Desember 2004. Atas kehendak Allah, semua bias selesai dan reda
***
Bumi Aceh berguncang keras pada pagi hari, 26 Desember 2004. Tapi gempa berkekuatan 9,1 pada skala Richter itu tak membuat Syarifudin Latief beranjak dari Lapangan Blang Padang. Pejabat Wali Kota banda Aceh itu masih setia menunggu acara penyerahan piala bagi pemenang Lomba Lari Marathon 10 Kilometer yang digelar Dinas Pemuda dan Olah Raga Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (kini berubah menjadi Provinsi Aceh). Sedianya, dialah yang akan menyerahkan langsung piala itu kepada para pemenang
Syarifuddin tak ambil pusing ketika beberapa atlet berbalik arah dan mengabaikan rute yang ditentukan. Satu hal yang belum dia dan banyak oramng lain sadari, gempa itu adalah awal sebuah tragedy besar yang menguras air mata dunia. Ia baru terkesiap setelah melihat ribuan orang berlarian tak terkendali dari arah Pantai Ulee Lheu. Mereka berteriak, “Air laut naik, air laut naik, air laut naik,” sambil menunjuk kea rah langit bagian barat Banda Aceh.
Syarifuddin menoleh dan melihat ombak setinggi pohon kelapa bergulung-gulung kea rah dirinya. Dia berlari sekuat tenaga. Tetapi Nahas, gelombang yang kecepatan nya mencapai 300 kilometer per jam itu lebih sigap menyergap, lalu memintal tubuhnya. Kisah selanjutnya, orang nomor satu di jajaran Pemerintah Kota Banda Aceh itu hilang terbenam lumpur dan puing tsunami
Pada hari ke-10 setelah bencana, pelaksana tugas (plt). Gubernur Aceh, Azwar Abubakar (sekarang anggota DPR- RI), menggelar apel perdana di halaman kantor Sekretariat Daerah (setda) Provinsi Aceh. Apel terpusat yang semestinya menjadi apel akbar itu hanya dihadiri 20 % pegawai negeri sipil (PNS). Padahal, di setda Aceh saja tercatat ada 7.110 PNS
Semua yang hadir terenyak. Apalagi, tidak ada berita tentang nasib para pegawai yang absen dalam apel itu. Semua kepala menyimpan tanya : apakah mereka tewas, hilang atau mengalami trauma berat sehingga tak menampakkan diri? Lebih miris lagi, menurut Detiknews, 4 januari 2005, sebanyak 21 Bupati dan Walikota di aceh tidak diketahui rimbanya
Belakangan tersiar kabar, ternyata korban gelombang dahsyat itu bukan hanya Walikota Banda Aceh. Nasib serupa menimpa Bupati Nagan Raya, Bupati aceh barat, serta sejumlah anggota DPRD Provinsi dan anggota DPRD kabupaten / kota. Di Lingkungan setda Provinsi Aceh saja, ada tiga pejabat eselon II yang meninggal, 31 orang pejabat eselon III, 125 pejabat eselon IV. Jumlah aparatur pemerintah yang tewas pada Minggu kelabu itu mencapai 2.992 orang dan 2.274 orang dilaporkan hilang
Di tingkat kabupaten dan kota, korban aparatur Negara terbanyak berada di daerah-daerah yang terkena hantaman langsung gelombang tsunami seperti Kabupaten Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Besar, dan Kota Banda Aceh. Selain pegawai pemda, aparatur pemerintah di sejumlah instansi, seperti Badan Pertanahan nasional, Kejaksaan Agung, Tentara Nasional Indonesia, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, tak luput dari serbuan tsunami.
Hilangnya jajaran pemimpin daerah dan ribuan aparatur pemda itu, menyebabkan koordinasi penanganan pasca –bencana di masa awal sangat sulit. Aparatur pemerintah yang selamat tentu saja masih banyak, tetapi mereka berada dalam kondisi yang tidak berdaya sama sekali. Banyak PNS bersama keluargannya terpaksa hidup di tenda-tenda darurat dan mengalami trauma berat akibat kehilangan sanak keluarga, tempat tinggal, dan harta benda. Akibatnya, boleh dikatakan, tak ada yang menangani pelayanan publik
Aceh mendadak menjadi antah berantah bersimbah lumpur, dengan banyak bangunan hancur dan jasad berserakan di antara isak tangis para korban yang selamat. Pemerintah pusat lantas mengerahkan 74 pejabat eselon I-IV Depdagri, 307 pegawai dan 352 mimdya praja ke Aceh untuk memutar kembali roda birokrasi. Mereka ditugasi di kantor gubernur, DPRD, kabupaten, kota, kecamatan, dan desa agar masyarakat terlayani
Penyebaran aparatur itu sangat tepat, karena 50 % kecamatan lumpuh dan batas-batas administrasi pedesdaan tak tampak lagi. Mereka terpaksa bekerja di tempat-tempat darurat, seperti rumah penduduk, tenda dan sekolah, atau menggelar tenda-tenda darurat, agar masyarakat yang membutuhkan bantuan dapat segera terlayani, meski dalam kondisi minimal.
Tsunami tidak hanya menjemput ajal ribuan pegawai, melainkan juga menghancurkan semua bangunan di sepanjang 800 kilometer garis pantai Aceh. Kondisi paling parah dialami Kabupaten Aceh Jaya, dengan tingkat kerusakan mencapai 85 %, di susul oleh Kabupaten Aceh Besar (80 %), Banda Aceh (75 %), dan kabupaten Aceh Barat (60%). Tak kurang dari 940 bangunan kantor dan 238 kendaraan berbagai dinas atau lembaga vertical bidang kelembagaan, hokum, keamanan, ketertiban, dan ketahanan masyarakat musnah tersapu tsunami
Dalam tiga bulan pertama masa tanggap darurat, pelayanan public dari pemda praktis lumpuh. Ketika badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi NAD dan kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara resmi berdiri pada 16 April 2005, kemacetan pelayanan pemerintahan masih sangat terasa. Pemerintahan daerah dikendalikan sepenuhnya oleh Plt. Gubernur NAD, Azwar Abubakar. Sedangkan Gubernur NAD, Abdullah Puteh, sedang mendekam di “hotel prodeo” Sukamiskin, bandung, karena kasus korupsi
BRR lantas mengambil alih koordinasi dan mulai membenahi kembali semua lini pemerintahan. BRR berkoordinasi dengan Plt. Gubernur NAD untuk menata kembali pemerintahan berdasarkan Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi yang disusun Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
Upaya pemulihan pun dilakukan dengan mengangkat pegawai baru di lingkungan pemda untuk mengisi kekosongan aparatur yang meninggal atau hilang ; mengganti peralatan kantor, sarana, dan prasarana yang lenyap; membenahi administrasi kependudukan warga;serta mulai menyusun rencama untuk membangun kembali lembaga-lembaga pemerintahan daerah dan kantor-kantor instansi vertical yang hancur Sebenarnya tsunami telah melambungkan persoalan kronis bidang pemerintahan kelembagaan daerah ke permukaan sehingga menjadi benderang. Akar permasalahan kelembagaan dan system pelayanan public di aceh sesungguhnya terse mai sejak 30 tahun silam, lantaran terjadi konflik bersenjata berkepanjangan
Sepanjang riwayat konflik di Aceh, sejumlah kantor pemerintah di bakar oleh mereka yang bertikai. Konflik bersenjata antara TNI dan GAM juga menewaskan sejumlah PNS. Selain itu, gerakan politik sipil yang terseret ke arus pusaran konflik tersebut, kerap mengeluarkan seruan mogok kerja di instansi pemerintah. Akibatnya, pelayanan publik sering terganggu dan system pemerintahan di Aceh timbul tenggelam sejak lima tahun sebelum tsunami
Tingkat kemiskinan di aceh sebelum dilanda tsunami mencapai 28,4 % dari total penduduk, sebanyak 4 juta jiwa. Angka kemiskinan itu sangat tinggi bila dibandingkan dengan angka kemiskinan rata-rata nasional, yang mencapai 16,69 %, menurut data badan Pusat Statistkc (BPS) pada Maret 2008
Sementara itu, Bappenas menggolongkan 16 Kabupaten di Aceh sebagai daerah tertinggal, kecuali Kota Madya Banda Aceh, Sabang,. Lhokseumawe , dan Kota Madya Langsa. Angka indeks pembangunan manusia (IPM) Aceh, sebesar 69, berada di bawah IPM Nasional yang mencapai 69,6. IPM terendah tercatat di pesisir barat dan bagian tengah, Yaitu Kabupaten imeulue (65,2), Gayo Lues (66,1), Nagan Raya (66,3), Aceh Singkil (66,5), Aceh jaya (66,8), Aceh Barat Daya (66,9), dan Bener Meriah (67,4). Wilayah Aceh bagian tengah menjadi kurang makmur di bandingkan dengan pesisir utara, karena terisolasinya kawasan tersebut dari berbagai jaringan akses dengan dunia luar
Peta kemiskinan di Aceh berubah menjadi lebih buruk pasca tsunami. Sebelum nya, aceh tercatat sebagai daerah dengan penduduk miskin terbanyak di Indonesia setelah Provinsi Gorontalo, Maluku, dan Papua. Tsunami mendongkrak jumlah penduduk miskin sekitar 7 % dan menjadikan Aceh hanya unggul satu tingkat di atas Provinsi Papua.
Selengkapnya...
Diposting oleh
The Journey of Hendra
di
01.22
0
komentar
Label: CATATAN PERJALANAN
Rabu, 03 Februari 2010
Pahlawan Is Hero

oleh: Hendra Syahputra
LIMA TAHUN YANG LALU saya ketemu seorang wanita warga negara asing, namanya Sarah Henderson. ia seorang janda berusia 60 tahun, pensiunan, tinggal di New York Amerika Serikat. Setelah bencana tsunami menghempas Aceh, dia mencairkan tabungan pensiunnya dan pergi ke negeri Serambi Mekkah ini. Dengan uangnya sendiri ia membangun kembali rumah-rumah warga Lamno, di Aceh Jaya. Selama setahun ini, Sarah pulang balik New York – Banda Aceh, dengan biaya sendiri untuk sebuah tugas mulia.
Ia menolong orang-orang yang tidak pernah dikenal sebelumnya, berbeda suku dan agama. Atas perbuatan mulianya, hampir pasti tak ada yang akan memberinya tanda jasa. Kini sudah lebih dari 50 rumah beserta kelengkapannya selesai dibangun oleh Sarah Henderson. Pahlawankah dia?
Di Aceh, saya ketemu lagi dengan sosok lain, ia Baharuddin, 49 tahun, sehari-hari dikenal sebagai Keuchik Desa Lamteungoh, Aceh Besar. Tsunami menggulung istri dan lima orang anaknya ke alam barzah. Baharuddin, adalah salah satu dari 105 duda, yang kehilangan seluruh anggota keluarganya. Setelah keadaan tenang Baharuddin memimpin warga yang selamat untuk kembali ke desa.
Ia menemukan jenazah putrinya dan turut menguburkannya beramai-ramai dengan warga desa lainnya. Setelah kering air mata duka, Baharuddin mengajak tetangga untuk mendirikan kamp pengungsian dan membangun kembali desanya. Semangat Baharuddin memperoleh sambutan dari warga.
Saat ini desa Lamtutui merupakan salah satu desa yang perkembangannya paling pesat. Ratusan rumah sudah terbangun, tanggul air laut sudah berdiri, kehidupan nelayan sudah normal kembali di bawah kepemimpinan Baharuddin. Pantaskah Keuchik Baharuddin disebut pahlawan?Jenderal Endriartono Sutarto, Desember 2004 terlibat perdebatan sengit dengan Wakil Rakyat di Senayan. Para anggota DPR mempersoalkan masuknya pasukan asing ke Aceh untuk menolong korban Tsunami, terutama yang masih hidup yang memerlukan bantuan makanan, obat-obatan, dan evakuasi.
Ketika tsunami terjadi, Sutarto memang segera mengontak koleganya, para Panglima tentara negara-negara sahabat: Singapura, Australia, Malaysia, Inggris, hingga Amerika Serikat. Dengan Jenderal Peter Cosgroove dari Australia, dan Laksamana Fargo dari Amerika Serikat, dan Panglima-panglima negara lainnya, Sutarto menjalin hotline 24 jam. Menyikapi tindakan ini, sejumlah wakil rakyat yang “paranoid” dengan nasionalisme, mempersalahkan Jenderal Sutarto. Sang Jenderal menjawab, ”lebih baik saya disebut tidak nasionalis, dari pada membiarkan korban mati tidak tertolong”. Maka bantuan dari tentara negara-negara sahabat pun berdatangan.
Tak kurang dari 18 negara mengirimkan tentaranya. Inilah operasi militer bukan tempur terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah militer modern. Operasi ini melibatkan 16.000 prajurit, 9 kapal induk, 1 rumah sakit terapung, 117 tim medis, 14 kapal perang, 31 pesawat udara, dan 82 helikopter. Dengan itu korban jiwa lebih besar dapat dihindari. Kita berfikir sejenak dan bertanya, apakah Jenderal Sutarto dan 16.000 tentara lainnya layak disebut pahlawan?
Krisis selalu saja melahirkan keputusan penting, langkah-langkah berani, tindakan strategis, dan tokoh-tokoh pelopor. Musibah gempa bumi dan tsunami, Desember 2004 adalah krisis besar yang tak ada duanya. Maka muncullah cerita dan tokoh di atas. Ada ratusan, bahkan ribuan individu yang melakukan tindakan kebajikan, kepeloporan, dengan gagah berani menempuh tantangan.
Prajurit TNI dan Anggota POLRI yang membuka daerah terisolasi, relawan PMI yang mengevakuasi puluhan ribu jenazah, hingga wartawan yang menembus wilayah sulit untuk mengabarkan kebutuhan warga yang tak tersentuh bantuan. Ribuan relawan kemanusiaan dari berbagai organisasi pernah membanjiri Aceh dan Nias. Hingga kini tak kurang dari 300 organisasi masih berada di wilayah bencana, bahu membahu membangun kembali pemukiman, sekolah, rumah sakit, dan kehidupan masyarakat. Apakah mereka pahlawan?
Di lain pihak, kita juga menyaksikan ribuan penggiat LSM yang memilih menjadi “pengawas” hiruk pikuk kesibukan membangun kembali Aceh dan Nias. Ada pula yang terus rajin mencari kesempatan untuk menggerakkan emosi masyarakat, memobilisasi demonstrasi demi demonstrasi. Tokoh-tokoh kelompok ini tak kalah populer dengan para pekerja kemanusiaan yang berpeluh menolong korban, mengerahkan segala daya dan upaya. Bahkan sering kali, para “pengawas” jauh lebih populer karena keterampilannya memilih isu-isu yang populis dan kepandaiannya merangkai kalimat-kalimat yang bombastis.
Pahlawankah mereka? Kita tentu mengucapkan terima kasih dan penghargaan tulus atas semua inisiatif, peran, tindakan berani dan kepeloporan. Sejauh mana tindakan itu menjadikan seseorang pahlawan atau oportunis yang mencari panggung eksistensi, jawabnya tergantung dua hal. Pertama, apakah yang dilakukannya benar-benar memberi manfaat bagi orang banyak.
Awal November 2007, saya bertemu kembali dengan seorang anak muda Jakarta, berusia 28 tahun, namanya Ratnasari Dewi. Dia lebih sering dipanggil Deu Greenjo. Anak muda yang mencintai dunia social, membangun peradaban, dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Bidang Komunikasi ádalah salah satu bagian yang dia coba untuk kuatkan di Aceh. Tak ada yang setuju ketika pertama kali ia memutuskan untuk menapakan kakinya di Aceh, untuk bekerja dan menguatkan sosialitanya sebagai manusia sosial
Bermodalkan kemampuan, dan segudang pengalaman yang sudah pernah digelutinya diberbagai Negara, seperti Singapura, Inggris dan Sweden, tidak terlalu rumit bagi perempuan yang akrab dipanggil Deu itu, untuk bekerjasama dengan komunitas yang lain, seperti di Aceh. Apakah ia Pahlawan?.
Saya menarik sebuah kesimpulan, semua mereka memang pahlawan di bidangnya. Sosok yang terakhir, menurut saya juga seorang pahlawan. Di usia yang muda Deu memutuskan untuk meninggalkan sejenak hiruk- pikuk Jakarta, membantu program lembaga International, untuk membangun Aceh. Bersama lelaki tegar dan mandiri, Saiful Azhari yang sejak 5 Juli 2008 yang lalu, resmi menjadi suaminya, kini mereka membuat sebuah usaha membuat T-shirt, yang setiap edisinya selalu mengankat budaya Aceh dan seluk –beluk etnis tersebut, dengan gaya yang mecing dan bernuansa seni tinggi.
Kembali saya mencatatnya, mereka sebagai pahlawan kecil, mengenalkan tradisi keseharian Aceh dalam setiap motif dan tema baju kaos tersebut. Dibantu dengan promosi lewat web bertajuk www.jualankaos.com, mereka mempromosikan web kaos cantik itu. Sebagian besar pecinta baju kaos ada di komunitas gaul anak muda Aceh, seperti Warong kopi Aceh, rumah makan Aceh, dan tempat kongkow para pekerka Asing yang ada di Aceh. Kini produk nya juga sudah mulai merambah ke Jakarta, Bandung, Makassar, Arkansas USA
Berbagai macam arti dan didipinisi pahlawan. Saya menyebutnya Pahlawan is Hero. Kini, ia kembali menjadi salah seorang Pahlawan di catatan saya, dengan dedikasi yang tinggi, ia benar-benar ingin menjadi pahlawan development study, membangun masyarakat Aceh kembali. Wanita yang menjadi salah seorang penerima beasiswa sebuah lembaga beasiswa Amerika itu bersiap melanjutkan pendidikan Master di Bidang Development Study and Publicr service, di negeri Paman Sam itu. Tepatnya Clinton School Arkansas
Ada lagi, anak muda yang lain, Kusnandar namanya. punya bakat yang kuat tentang IT, membuat ia banyak membantu siapa saja untuk membangun Web, sebagai sarana penunjang profesi dan keseriusan seseorang terhadap sesuatu bidang., ia turut membantu saya mewujudkan keinginan membangun Web tempat aktualisasi diri bagi saya, termasuk bagi banyak profesor yang saya kenal.
Lebih dari itu, prestasi dan pengalaman bagi saya adalah jalan. Apakah motif yang mendasari benar-benar diabdikan bagi kepentingan masyarakat, dan bersih dari bias kepentingan pribadi. Maka itu, waktulah yang akan menguji. Satu hal yang pasti, pekerjaan besar membangun kembali Aceh dan Nias memerlukan tindakan-tindakan nyata. Tindakan yang benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
Tentang kepahlawanan, biarlah sejarah yang akan mengujinya
Catatan : Saya dedikasikan bagi semua yang sudah berkarya untuk Aceh. Untuk Hero yang baru saya kenal, Ratnasari Dewi dan Saiful Azhari, juga Kusnandar. Terimkasih untuk pengalaman hidup yang luar biasa bagi saya. Teristimewa untuk Istriku tercinta, Sulamsih Sri Budini, yang juga menjadi pahlawan dalam hatiku. Semoga studynya cepat selesai ya istriku Sayang
Selengkapnya...
Diposting oleh
The Journey of Hendra
di
19.24
0
komentar
Label: CATATAN PERJALANAN
Bantuan Pencarian
Mengenai Saya
- The Journey of Hendra
- saya seorang penulis yang sedang belajar menulis. mencoba menulis apa yang saya rasakan dan saya lihat. semoga bermanfaat
