Senin, 01 Februari 2010

Modal sosial dan Integritas



Oleh : Hendra Syahputra

SEPULUH TAHUN YANG LALU seorang pemikir bernama Francis Fukuyama melansir sebuah buku yang sempat menjadi pembicaraan luas di seluruh dunia, berjudul “Trust”. Salah satu bagian penting dari buku itu mengupas tentang apa yang disebutnya sebagai “social capital” atau modal sosial. Fukuyama mendefinisikan modal sosial sebagai norma informal yang dapat mendorong kerjasama antar anggota masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari, modal sosial akan tampak dari suasana saling percaya antar warga masyarakat. Ada hubungan erat antara modal sosial dengan tingkat kesejahteraan suatu masyarakat atau bangsa. Negara atau bangsa-bangsa yang tingkat kesejahteraannya tinggi adalah bangsa-bangsa yang memiliki modal sosial tinggi. Argumennya, rasa saling percaya antar warga masyarakat dan kemauan untuk bekerjasama menyebabkan ”biaya transaksi” dan ”biaya kontrol” menjadi rendah, dan hasilnya adalah kehidupan yang lebih efisien dan produktif. Dengan demikian, sumber daya yang ada, dapat dioptimalkan untuk melakukan kegiatan yang membangun nilai tambah bagi kehidupan masyarakatnya.

Melalui kegiatan yang membangun nilai tambah inilah maka multiplier effects bagi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat dapat terwujud.. Sementara itu, dalam tatanan masyarakat yang rasa saling percayanya rendah, diperlukan perangkat kontrol yang berlapis-lapis. Anggota masyarakat sibuk memperjuangkan kepentingan diri, sementara ruang untuk saling memberi sangat sempit. Proses kreatif untuk menemukan cara-cara baru dalam menjalankan kehidupan terhambat, karena setiap inisiatif akan disikapi dengan curiga, bahkan antipati. Sumber daya dan energi yang dimiliki masyarakat dan negara banyak dihabiskan untuk kegiatan yang tidak menghasilkan nilai tambah. Kehidupan keseluruhan menjadi sulit, boros, dan membebani warga.

Masyarakat yang seperti ini sulit untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmurannya. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan ”cadangan” modal sosial, antara lain faktor sejarah, kebudayaan, dan pendidikan. Yang paling menarik adalah bahwa agama dan globalisasi disebut sebagai sumber penting bagi peningkatan modal sosial. Agama (agama apapun) merupakan sumber bagi tumbuhnya nilai-nilai luhur yang menumbuhkan rasa saling percaya dan keinginnan kerjasama.

Sedangkan globalisasi memaksa warga dunia untuk berinteraksi dan hidup bersama. Membangun kembali Aceh dan Nias, sungguh memerlukan modal sosial yang sangat besar. Jika masyarakat Aceh relijius, dan jika bencana Tsunami telah membawa Aceh dan Nias ke dalam komunitas global; bisakah kita berharap suasana ini menjadi persemaian bagi tumbuh suburnya modal sosial?.


Bagaimana Dengan Integritas?

Bila kita ingin mencari satu kata yang dapat mencakup seluruh konsep etis dan moral dalam diri seorang profesional, maka kata tersebut adalah “integritas”. Agaknya belum cukup bagi sebuah kata “profesional” untuk menggambarkan kualitas paripurna. Sosok profesional bukan hanya harus melengkapi dirinya dengan kapasitas tehnis yang tinggi dan ketangguhan emosi, namun juga nilai-nilai etis dan moral. Dan, sebagaimana biasanya, lebih mudah membicarakan integritas ketimbang menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Begitu banyak tulisan mengenai integritas, namun tak pernah bosan orang membicarakannya. Memang integritas tidak cukup untuk dibicarakan, ia haruslah hidup dalam arti yang sebenarnya, barulah kita bisa mengenal apa integritas itu.

Setidaknya ada tiga makna yang berkaitan dengan integritas. Pertama, integritas sebagai “unity”, digunakan untuk menjelaskan kondisi kesatuan, keseluruhan, keterpaduan. Makna ini sering terdengar saat kita berbicara tentang wawasan kebangsaan.

Para politisi bilang, “Kita harus mempertahankan integrasi wilayah negara kita.” Ini berarti bahwa kita harus berusaha sekuat mungkin untuk menjaga kesatuan wilayah negara kita yang terdiri dari banyak pulau. Tentu yang dimaksud bukan cuma kesatuan fisik namun juga kesatuan idea.

Tak mungkin kita bisa menyatukan ribuan pulau dalam wilayah yang sebesar ini bila tidak berusaha menyatukan pandangan jutaan orang yang menghuninya. Dalam dunia komputer, kita mengenal istilah “integrated system” atau sistem yang terintegrasi, yaitu kesatuan sistem-sistem yang saling berhubungan membentuk sistem besar yang menyeluruh dan terpadu, sehingga memudahkan perusahaan untuk melakukan operasi dan kontrol yang lebih efektif.

Integritas bias jadi juga merupakan modal social yang sangat kuat. Pasalnnya, ini merupakan suatu kekuatan hebat. Seperti kata pepatah, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Kita tak bisa menggunakan sebatang lidi untuk menyapu. Namun, bila kita mengumpulkan puluhan batang lidi, lalu mengikatnya dengan kuat menjadi satu, maka terciptalah sapu lidi yang dapat kita pakai untuk membersihkan halaman.

Tak heran bila semangat untuk bersatu, bersesuaian dan berseluruhan semakin hari semakin akrab dengan pola pandang kita. Ini bukan berarti penyeragaman, semua harus sama, namun semangat untuk mencari kesamaan yang membuat kita merasa satu meski berbeda-beda. Globalisasi dapat dilihat sebagai semangat kebersatuan manusia dalam ukuran yang mendunia.

Kedua, integritas adalah “incorruptibility”, keutuhan, kebulatan, yang tak tergoyahkan, tanpa cacat. Integritas diambil dari bahasa Inggris, yang sebenarnya berasal dari bahasa Latin, integritat. Sedangkan dalam bahasa matematika dikenal istilah integr atau integer, yang berarti bilangan bulat tanpa pecahan. Bila kita mempunyai angka 2,3333 maka integer atau bilangan bulat dari angka tersebut adalah 2. Dalam hal ini semua pecahan yang menyebabkan angka tersebut tidak bulat diabaikan. Tentu yang dimaksud dengan bulat di sini bukanlah 0 atau semacam bulatan atau bundaran, namun keutuhan dan kelengkapan suatu bilangan yang tak mengandung pecahan. Bila kita memiliki sebuah rumah kuno dengan arsitektur klasik, kemudian kita menambah bangunan baru bergaya modern, maka dikatakan bahwa bangunan baru tersebut merusak keintegritasan arsitektur atau mengganggu keutuhan idea arsitektur.

Dalam hal ini integritas berarti konsistensi, keterpaduan antara idea dengan perwujudan nyatanya. Seorang aktor film pemenang piala Oscar dapat dikatakan memiliki kualitas seni peran yang tinggi. Bila ia bersedia bermain dalam film “murahan” yang tidak memerlukan keseriusan akting, maka kritikus film mungkin mencelanya sebagai aktor yang tak menjaga integritasnya. Bila anda tahu anda mampu mencapai keunggulan 10 namun anda puas dengan hanya pencapaian 6, maka itu bukan pertanda integritas yang tinggi.

Ketiga, integritas adalah kualitas moral. Hampir semua dari kita mengartikan integritas sebagai “honesty”, kejujuran, ketulusan, kemurnian, kelurusan, yang tak dapat dipalsukan, dan bukan kepura-puraan. Dan barangkali sudah cukup sebuah kualitas jujur sebagai pilar utama kualitas moral seseorang.
Sebagaimana kata orang bijak, bahwa kejujuran adalah mata uang yang laku dimana-mana. Integritas juga adalah ketulusan, sesuatu yang sungguh-sungguh berasal dari dalam hati. Itulah mengapa, integritas bukan cuma jujur pada orang lain. Namun, terutama adalah jujur pada diri sendiri. Integritas bukan kata yang dapat terlihat indera saja, namun harus terasa oleh hati.

Selain itu, integritas adalah “purity” atau kemurnian. Seseorang mungkin disebut sebagai manajer hebat yang mampu mengatur banyak orang, namun bila semua itu itu lakukan dengan memanipulasi orang lain dengan berbagai bahasa diplomasi yang ulung, maka itu bukan sebuah bentuk dari integritas. Integritas bukanlah kepura-puraan.

Integritas haruslah sebuah spontanitas murni dan polos yang lahir dari diri dalam anda. Integritas tidak memerlukan penilaian, atau pertimbangan untuk-rugi untuk terwujud. Ia muncul begitu saja. Barangkali, itulah yang dimaksud oleh Albert Camus bahwa “integritas tidak memerlukan aturan”.

Integritas bukanlah rambu-rambu. Integritas adalah sebuah jalan lurus yang memang tidak memerlukan rambu-rambu. Anda tak memerlukan peraturan apa-apa untuk bersikap jujur dan tulus. Anda tak memerlukan motif apa-apa untuk menjadi seorang yang berintegritas tinggi. Karena, semestinya itu sudah tertanam dalam diri anda. Sayang sekali, mungkin hanya orang-orang suci yang mampu mewujudkan integritas semacam itu. Cukuplah bagi kebanyakan orang bahwa integritas adalah kemampuan kita untuk senantiasa memegang teguh prinsip-prinsip moral dan menolak untuk mengubahnya meski situasi yang kita hadapi sangatlah sulit.

Mungkin juga cukuplah bagi kebanyakan orang bahwa integritas itu adalah kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Namun, tak ada yang salah bila kita tidak berhenti di situ dan terus melanjutkan perjalanan kita untuk menemukan makna integritas yang hakiki.

Dalam refleksi diri kita, integritas mencakup ketiga makna di atas. Integritas adalah kualitas keterpaduan diri seseorang, kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Lebih lanjut juga merupakan keterpaduan antara hati, pikiran dan tindakan. Integritas merekatkan diri dalam dan diri luar seseorang, sebagaimana laut menyatukan pulau-pulau di negara kita.

Namun demikian, integritas bukan sekedar kesatuan diri seseorang dengan dirinya sendiri, integritas juga merupakan kesatuan diri seseorang dengan lingkungan dan masyarakatnya, kehidupan sosial dan alam semesta ini. Seorang yang berintegritas tinggi adalah orang yang menceburkan diri pada lingkungannya, bekerja dan berkarya di sana, sekaligus merasakan kesatuan dirinya dengan alam dan masyarakat sekitar; senantiasa mencari dan berusaha mengerti apa yang harus dikerahkan demi kepentingan lingkungannya. Seorang yang berintegritas tinggi adalah seseorang dengan kualitas keutuhan dan tanpa cacat, atau setidaknya selalu berusaha untuk menghasilkan yang terbaik dari kekuatan dirinya. Seseorang dengan integritas tinggi bagaikan sebatang lidi dalam sapu lidi yang bersama-sama dengan lidi-lidi lain mengerahkan kemampuannya untuk menjadi bermanfaat. Seseorang dengan integritas tinggi berusaha untuk menjaga pencapaian tertingginya.

Seseorang yang berintegritas tinggi adalah mereka dengan kualitas moral dan akhlak yang tinggi. Masukkan semua komponen moral, maka kita akan menemukan tempatnya dalam kata integritas. Cukuplah kalimat dari Buckminster menggambarkan hal ini, “The moral grandeur of independent integrity is the sublimest thing in nature”, Keluhuran moral dari integritas yang merdeka adalah hal yang paling luhur di alam ini.

Dan sekali lagi, memang benar,lebih mudah membicarakan integritas ketimbang memahaminya apalagi mewujudkannya dalam kehidupan nyata.

Bisakah kita sama mencoba, menguatkan modal social yang juga bernama integritas???, hanya waktu yang dapat menjawabnya. Semoga Selengkapnya...

Takdir : berjuang untuk berserah


(testimony untuk Achsan Indriadi)

Oleh : Hendra Syahputra

“Kataballohu maqoodiirol kholaaiqo qobla ayyakhluqossamaawaati
wal ardho bi khomsiina alfa sanatin. (Allah telah menulis qodar-qodar nya makhluk limapuluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi – H.R. Muslim dalam Kitabul Qodar)”

***

Sore itu tidak sama seperti sore yang lain. Di dalam benak ku, semua mendadak menjadi gelap. “Masya Allah”, lafadz ku dalam hati dengan bibir bergerak. Aku kaget luar biasa. Kabar yang kudapat dari e-mail,dari sabahat yang sudah seperti adik ku sendiri Dawud Abd, benar-benar membuat sekujur tubuhku lemas seperti tak bisa di gerakan. Achsan Indriadi, sahabatku yang baik divonis dokter terkena penyakit yang sekarang paling ditakuti, H5N1 alias flu burung. Penyakit yang mematikan. “Ya Allah”, kami pasarah padamu. Aku terduduk lemas, semua mendadak gelap dalam benak ku.

“Kenapa harus Achsan? Kenapa tidak yang lain nya? Kenapa bukan koruptor? Kenapa bukan teroris? Kenapa..kenapa?? kenapa???.” Kalimat Tanya itu menyeruak seperti tak berhenti dan tidak menemukan tanda titik untuk menghentikan nya. Zikir dan do’a selepas sholat ashar, semakin kurasa kuat sekali. Bahkan aku merasakan do’a-do’a yang kulafaldzkan sangat bertenaga. aku berusaha berdamai dengan jiwaku (Allah, pertolonganmu pasti dekat)

Achsan, adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan swasta di bilangan Jakarta Utara. Dalam setahun ini (2009), Achsan, seperti ceritanya padaku, merasa sedang dicoba oleh Allah. Ia juga bilang sedang merasakan manisnya keimanan, sampai dia merasa sekarat. Lelaki kelahiran 15 November 1973 itu berkali-kali bercerita tentang mimpi-mimpi yang dialaminya ketika dia tak sadarkan diri, akibat panas yang tinggi.

Di tahun 2009 ini, sudah 3 kali Achsan masuk rumah sakit. di bulan Februari ia terkena lumpuh kaki kanan akibat cedera tulang punggung. Bulan April ia kembali masuk rumah sakit akibat HNP (syaraf tulang punggung terjepit) yang mempengaruhi fungsi organ dalam.

***

Aku kembali tertegun tak bisa berkata-kata. Email dari Dawud, kembali kubaca dengan dada bergetar hebat. Achsan sakit lagi, kali ini tak main-main. Flu Babi. Aku diam, berusaha untuk kuat melanjutkan membaca e-mail Dawud dengan sangat hati-hati. Pikiran ku melayang jauh, membayangkan betapa sedih nya hati anak-anak Achsan. Amorita (10 th), Achmar (3,5 th), serta Aimar (1,5 th), juga istrinya Nina Marlina. Meski kutahu, istri dan ketiga anak Achsan, bukanlah orang sembarangan, mereka sangat dekat dengan kehidupan Agama serta sangat penyabar. Bathinku berkata sendiri, tetap tak mudah menghadapi ini semua.

Kabar terakhir, di bulan Juli Achsan masuk rumah sakit lagi, tapi kali ini sangat mengejutkan. Ia sakit akibat burung dan Flu babi. Otomatis sejak bulan Januari hingga hari ini Achsan tidak dapat bekerja dan mencari nafkah dan dan meelakukan seabrek aktivitas positif lainnya

Dalam catatan Achsan yang sempat ku baca, di Bulan Juni yang lalau, ia memang sempat pergi tugas ke luar negeri, tepatnya ke Pakistan, namun hingga akhir bulan Juni jsepulang dari Luar Negeri, Achsan tak merasa ada sesuatu perubahan dalam tubuhnya. Semua berjalan normal dan biasa saja. Ia pun tidak mengalami sakit pernafasan. Hari hari berjalan normal dan ia beraktivitas dan bekerja seperti biasa

Pada tanggal 9 dan 10 Juli, Achsan bahkan masih sempat pergi mengisi liburan bersama anak dan istrinya, ke beberapa tempat pedesaan di Depok dan Bogor, dan kerumah orang tua nya. Secara beruntun setelah pulangdari liburan mereka sekeluarga sakit pilek. Achsan sendiri merasakan masuk angin yang berat. Karenamerasa dirinya kecapean, ia pun melakukan pijat refleksi, di rumah seorang teman nya Taufik Wibisono. Namun flu yang dirasakan Achsan tak kunjung hilang. Selama 3 hari Achsan minum obat flu tetapi tidak juga menunjukan kondisi yang membaik. Achsan memutuskan memeriksakan diri di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat. Saat itu suhu tubuh nya 41 dcelcius, dan selalu muntah. Komdisi Achsan yang sangat tidak memungkinkah akibat muntah berat, dokter menyarakan Achsan dirawat di rumah sakit itu.

***

Hingga hari kelima Achsan dirumah sakit, tidak ada perubahan yang berarti, bahkan semakin parah. Dokter pun sedikit panik, karena Achsan sudah demam tinggi (hingga 41,5 dcelcius) sudah 8 hari. Mulai hari kedelapan demam tinggi Achsan disertai batuk dengan mengeluarkan darah segar, praktis ejak itu pernapasan nya mulai terganggu, dan Achsan pun bernafas dibantu dibantu oleh oksigen.

Dokter berusaha keras membantu Achsan untuk sembuh dari penyakitnya. Beberapa obat diinjeksi masuk ke dalam tubuhnya, malah mengakibatkan lidah dan tenggorokan Achsan terasa terbakar (hingga saat ini masih belum bisa merasa dengan baik). Lambung Achsan pun sudah tidak bisa menerima makanan dan minuman, selalu dimuntahkan. Puncaknya, sample dahak Achsan langsung di kirim ke Depkes. Dua hari kemudian, hasil pemeriksaan Laboratorium keluar. Hasilnya mengejutkan semua anggota keluarga. Achsan terkena H5N1, alias flu burung. Torax nya pun s dirontgen ulang secara lebih detail, dan hasilnya Achsan pneumonia berat dan sebagian paru-paru nya sudah terisi air.

“Allah, engakau begitu dekat”, gumamku panjang. Kembali aku mengingat Achsan yang sedang berjuang sekuat tenaga dalam do’a nya untuk sembuh


***

Pada hari yang sama Achsan dirujuk ke RS persahabatan (sentral penderita flu burung), tetapi karena ICU nya penuh, Achsan dirujuk ke ICU RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso. Saat dipindahakan Achsan merasa terhina sekali, “Saya merasa terhina, saya dipindahkan oleh staf kesehatan perpakaian isolasi komplet seperti di film Hollywood”, tuturt Achsan padaku. Jalan, gang, elevator semuanya dibersihkan dari pengunjung saat Achsan lewat. Semua petugas keamanan menggunakan masker. Semua mendadak horror. “ Kok , saya seperti punya penyakit nista”, tutur achsan saat itu, seperti diceritakan nya padaku. Achsan tiba di ICU penderitaan tubuh nya pun dirasakan nya bertambah. Infus saya bercabang 3, plus selang injeksi, ia rasakan semakin membuat penderitaan nya semakin bertambah. Achsan juga merasakan kerongkongan semakin tak enak dirasakan nya, karena dikasih selang. Bukan itu saja, Achsan semakin merasa tak nyaman, ketika kateter dipasang untuk memudahkan nya buang air kecil. Achsan sempat menangis, ketika merasa tak kuat untuk berdiri dan buang air besar. Pup (BAB) pun dilakukan dengan menggunakan pampers. “Masya Allah, betapa tidak enak dan nyaman nya”, pekik Achsan

Saat-saat bernafas dirasanya tak nyaman. Achsan bernafas dengan masker oksigen (ia menolak intubasi), disamping itu juga dipasang alat rekam jantung dan saturasi.

( diruangan kaca kecil yang sangat berisik, dengan suara peralatan medic, dalam kondisi lelah namun masih sadar, Achsan melihat ruang-ruang ICU diisi oleh beberapa pasien yang memang sudah sekarat, kebanyakan kondisinya tidak sadar)

Keesokan harinya, tepatnya hari jum’at yang Achsan lupa tanggal nya ada hal yang membuat Achsan bertambah lemas. Achsan menjalani pemeriksaan loboratoriom ke dua. Hasil lab hari itu, ternyata menunjukan hasil yang mengerikan. Achsan bukan saja positif positif H5N1 tapi juga H1N1 alias flu babi (yang konon berasal dari Meksiko).


Seperti diketahui, flu burung dan flu babi adalah penyakit baru yang cukup berbahaya. Penyakit ini mudah sekali menular hanya dengan kontak fisik. Bahkan jika terlambat ditangani, penyakit ini juga bisa memakan korban jiwa. Dengan kondisi semacam ini,

….siapapun tak bisa menolak qodar Allah………

Di ICU Achsan masih dalam keadaan lemah. Tekanan darah sistole nya selalu dibawah 100, dan detak jantung lambat (hanya 15 hingga 25 denyut per menit), sementara oksigen darah Achsan hanya 50% dari normal. Achsan lebih sering tertidur dibanding terbangun, bahkan secara rutin perawat membangunkan Achsan agar tetap tersadar dan tidak pingsan.

Achsan berusaha sekuat tenaga untuk tidak pingsan. Dalam panas tinggi dan menderita penyakit mengerikan dua sekaligus, ia masih tetap berzikir, berdo’a dan pasrah pada Allah. Kepasrahan Achsan, mengingatkan saya pada sebuah kisah yang berjudul Struggling to Surrender – berjuang untuk berserah. Sungguh Achsan sedang berjuang dan berserah diri pada Allah

“Saya merasakan manis nya keimanan”, tutur Achsan padaku. Saat ia dirumah sakit, saudara seta teman-teman nya sealu setia menemani. Ada saudaranya yang sudah menyiapkan pasir untuk Tayamum dalam plastic kresek hitam, untuk dia berwudhu

Ia mengaku, setiap perawat selalu bertanya ini apa? “ ini obat special”, ujar nya tanpa mau memperpanjang obrolan, karena ia merasa lelah. Setiap waktu sholat ada saja orang yang mengingatkanya.

Syukurnya, istri Achsan membekali ekali Quran dan buku doa. Meski sakit tak terperi, Achsan berusaha membaca Al-Qur’an yang selalu berada tak jauh dari tangan nya

Di ruangan sunyi dan terisolir itu, Achsan sangat terasa bisikan bisikan syetan untuk tidak sabar, untuk merasa berat melakukan ibadah sholat, sering dibuat mimpi-mimpi yang melemahkan keimanan, untuk menyerah dengan keadaan dan pasrah pada perasaan lemah. sesekali bisikan untuk putus asa, dan yang parah adalah prasangka buruk pada Allah

innal’abda idza sabaqot lahu minnallooh manzilatun lam yablugh haa bi’amalihi ibtalaahulloh fii jasadihi au fii maalihi au fii waladihi summa shobbaro’alaa dzalik summattafaqoo hattayub lighohul manzilatallatii sabaqot lahu minnalloohi ta’alaa – sesungguhnya seorang hamba Allah ketika telah mendahului padanya (qodar) drajat dari Allah yang dia tidak bisa mencapai dengan amalan nya, maka Allah member cobaan padanya, di dalam jasadnya atau hartanya atau anak nya, kemudian Allah member lagi kesabaran pada nya dalam menghadapi cobaan tersebut sehingga Allah menyampaikan padanya derajat yang telah di qodar untuknya disisi Allah ta’ala. (HR. Abudawud)

Tapi semua itu, bisa dijalani Achsan dengan baik. Pada saat inilah nasehat, ajakan berdoa, peringatan untuk sholat bisa dengan segera menghilangkan pengaruh-pengaruh syetan tadi. Semangat itu didapatkan Achsan tiap hari.

Semangat untuk sembuh dan berharap pertolongan Allah, semakin kuat dirasakan Achsan ketika suatu siap dia melihat pasien baru masuk ke ruang depan dimana Achsan dirawat

“di ruangan yang ada di depan saya datang seorang Bapak berusia atas 50 tahun. Ia datang dalam keadaan lebih bugar dari saya, dan dengan kasus yang sama dengan saya (H5N1 & H1N1), hanya bertahan sehari dan besoknya meninggal. di ruang sebelah, ada bocah usia 5 tahun, Masuk dengan Pneumonia seperti saya, dan saat 4 hari saya di ICU, bocah tersebut meninggal. Rasanya dekat sekali saya dengan maut” ungkap Achsan.

Tapi sebaliknya, melihat kondisi itu malah membuat ia tambah semangat untuk sembuh. Tidak ada perasaan takut atau getir pada saat itu, tapi yang ia rasakan adalah rasa penyesalan atas perilaku saya selama ini, yang kurang mengepolkan ibadah

(dalam hati Achsan ingat suatu dalil, setiap yang bernyawa akan merasakan mati, dan mati itu datangnya sewaktu-waktu)

Achsan sempat tak sdarkan diri. Dalam kondisi tak sadar itu, ia bermipi dan menngingat dengan jelas mimpinya. Dalam mimpi itu tiba-tiba ada sosok yang menunjukan pilihan-pilihan pada Achsan. Pilihan baik atau buruk, pilihan sukses atau gagal, pilihan hidup atau mati. Semua pilihan yang baik, diwakili dengan arah kanan, pilihan yang buruk di wakili dengan arah kiri

Achsan pun memilih arah kanan. Dalam perjalanan nya kea rah kanan, ternyata Achsan di ajak kesebuah gunung, dimana gunung itu dikelilingi oleh jurang yang sangat dalam. Dalam mimpi itu ia bertemu banyak orang yang sedang kehausan. Digunung itu tak ada air. Yang tak sabar memilih lompat ke dalam jurang yang dalam, dan mati tak kembali

Achsan tetap bertahan dalam kehausan dan ia tak mau masuk dalam jurang itu. Saat terjaga, panas badan nya menurun. Hasil pemeriksaan terakhir, Achsan sembuh dari kedua penyakit yang mengerikan itu

Achsan merasakan hadir sebagai ksatria baru dalam hidupnya setelah sembuh. Ksatria yang kusebut disini buklanlah ksatria bertopeng atau ksatria dalam pewayangan. Melainkan ksatria dalam diri, berjuang, beribadah pada Allah

Kata Nabi Ibrahim: "Wa idzaa maridltu fa huwa yasyfiin" - dan ketika sakit aku, maka Dia yang menyembuhkan.

Menuntaskan tulisan ini, aku teringat sebuah puisi


Ke mana pun kau menoleh
Kita bakal bertemu
Karena kau hanya daging

Kemanapun kau menoleh
Kita bakal bertemu
Karena kau hanya tulang
bakal merapuh dalam sendiku

kalimat-kalimat dahsyat dalam sajak Gus tf, yang bertajuk “Bakal”, tahun 2001 itu, seperti luruh dalam jiwaku.

*** Mas Achsan aku belajar dari kisahmu. Tetap semangat dan hebat, saudaraku

Bumi Allah, 11 Agustus 2009 Selengkapnya...

Template by - Fedri Hidayat - 2008